JAWA BARAT — Kementerian ESDM memastikan ketahanan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional berada di kisaran 18-20 hari, meski antrean di sejumlah SPBU masih terjadi di beberapa daerah. Pemerintah menegaskan antrean bukan akibat kelangkaan pasokan, melainkan gangguan distribusi yang dipicu kekeringan sungai dampak El Nino. PT Pertamina pun mengalihkan jalur suplai, termasuk memanfaatkan fasilitas penyangga di Kalimantan Barat.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan stok BBM secara nasional tetap tersedia dalam jumlah yang cukup. Antrean yang muncul di lapangan, kata dia, lebih disebabkan oleh hambatan pengiriman ke titik-titik tertentu, bukan karena pasokan di terminal bahan bakar menipis.
Persoalan utamanya muncul dari kondisi cuaca. El Nino yang berkepanjangan membuat sejumlah sungai mengering, padahal jalur air selama ini menjadi salah satu rute utama pengiriman BBM ke daerah-daerah tertentu.
Ketika muka air sungai turun dan tidak lagi memungkinkan dilalui kapal pengangkut BBM, distribusi harus dialihkan menggunakan truk tangki. Perubahan moda transportasi itu membuat kapasitas angkut mengecil sekaligus memperpanjang waktu pengiriman.
"Lalu dikirim pakai truk, dan truknya ini kapasitasnya tidak sebesar kalau kita mengirimkan dengan menggunakan kapal-kapal di sungai. Itu salah satu contoh kenapa terjadi antrean," ungkap Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (5/10).
Dampaknya, pengisian kembali stok di sejumlah SPBU membutuhkan waktu lebih lama. Antrean pun terjadi meski ketersediaan BBM secara keseluruhan masih dalam kondisi aman.
"Ketahanan stok 18-20 hari itu tetap ada. Jadi kalaupun kemudian terjadi antrean, lebih disebabkan bukan karena ketahanan stok, tapi karena salah satunya misalnya adalah kondisi El Nino," ujar Laode.
Salah satu daerah yang merasakan langsung imbasnya adalah Kalimantan Barat. Penyusutan muka air Sungai Kapuas menghambat akses kapal pengangkut BBM menuju Fuel Terminal Sintang, sehingga distribusi ke Kabupaten Sintang dan sekitarnya terganggu.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyatakan kondisi Sungai Kapuas memberikan dampak signifikan terhadap akses kapal pengangkut BBM menuju Fuel Terminal Sintang.
"Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pertamina telah menyiapkan alternatif distribusi melalui fasilitas penyangga di Tayan. Fasilitas ini terus kami optimalkan agar penyaluran BBM ke Sintang dan wilayah sekitarnya tetap berjalan sesuai kebutuhan," kata Kitty.
Fasilitas penyangga di Tayan, Kabupaten Sanggau, difungsikan sebagai titik suplai alternatif bagi kebutuhan BBM di Sintang. Langkah ini diambil agar pasokan tetap mengalir meski jalur sungai tidak bisa dilalui seperti biasa.
Laode menegaskan pemerintah terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan PT Pertamina untuk mengantisipasi gangguan distribusi di lapangan. Koordinasi itu mencakup pemetaan wilayah rawan hambatan serta penyiapan jalur alternatif.
"Dari sisi ketahanan stok, 18 sampai 20 hari selalu tersedia dan kami juga selalu bekerjasama dengan pemda dalam rangka memitigasi kondisi-kondisi yang terjadi di lapangan," tegasnya.
Bagi masyarakat, kepastian stok 18-20 hari itu menjadi sinyal bahwa tidak ada kebutuhan mendesak untuk menimbun BBM. Namun, antrean di SPBU tetap mungkin muncul di daerah yang jalur distribusinya terganggu, terutama wilayah yang selama ini bergantung pada transportasi sungai.
Pemerintah memastikan tidak ada kelangkaan pasokan BBM di sejumlah daerah. Antrean yang terjadi beberapa pekan terakhir murni akibat gangguan distribusi, bukan karena stok nasional menipis.