BANDUNG — Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman mengungkapkan bahwa pengerahan puluhan ribu mahasiswa tersebut bukan program yang sepenuhnya baru. Pola serupa pernah diuji di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, dengan melibatkan sekitar 500 mahasiswa.
Dari uji coba itu, timbulan sampah tercatat turun sekitar 20 persen. Pemilahan sampah di tingkat masyarakat justru meningkat hingga dua kali lipat.
Pemprov Jabar pun telah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan sejumlah perguruan tinggi untuk menyiapkan pelaksanaan program di lapangan.
Mengapa Mahasiswa Dilibatkan, Bukan Hanya Petugas Kebersihan?
Selama tiga bulan penugasan, mahasiswa bertugas memberikan edukasi sekaligus mendampingi warga dalam memilah dan mengurangi sampah. Mereka akan memperoleh konversi kegiatan sebesar 10 SKS.
Selain itu, mahasiswa dibekali modul serta perangkat digital sebagai panduan saat mendampingi masyarakat di tiap kecamatan.
"Target kami 20 persen," kata Herman di Gedung DPRD Jabar, Selasa (6/10/2026).
Fasilitas Pengolahan Sudah Ada, tapi Belum Berjalan Optimal
Herman menilai persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan membangun fasilitas pengolahan. Perubahan kebiasaan warga dalam memilah sampah menjadi kunci agar sistem yang tersedia bekerja maksimal.
"Teknologi saja tidak cukup," ujarnya.
Pemprov Jabar mendorong pemanfaatan sejumlah fasilitas pengolahan di kabupaten dan kota Bandung Raya, mulai dari TPS 3R, RDF, pengomposan, hingga budidaya maggot.
Menurut Herman, fasilitas-fasilitas itu sebenarnya sudah tersedia. Namun pengoperasiannya belum optimal karena sampah yang diterima masih banyak dalam kondisi tercampur.
Kondisi tersebut membuat pengolahan menggunakan maggot tidak maksimal. Sampah organik sebagai bahan utama harus dipisahkan lebih dulu dari plastik maupun material lainnya.
Dua Sisi Strategi: Perkuat Teknologi dan Ubah Perilaku Warga
Strategi penanganan sampah Bandung Raya diarahkan pada dua sisi sekaligus. Pemprov Jabar memperkuat teknologi pengolahan di hilir, sambil mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi dan pendampingan di hulu.
Upaya dari hulu hingga hilir itu juga ditujukan untuk memperpanjang usia operasional TPA Sarimukti. Pemprov Jabar berharap tempat pembuangan tersebut masih dapat digunakan hingga Desember 2029.
Setelah itu, TPPAS Legok Nangka ditargetkan menjadi solusi jangka panjang melalui pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Waste to Energy yang diharapkan beroperasi penuh pada 2030.
"Kami upayakan hulu, tengah dan hilir," ucap Herman.
Herman: Ini Soal Harga Diri Kita
Herman menegaskan persoalan sampah Bandung Raya membutuhkan keterlibatan masyarakat, bukan hanya pemerintah. Warga didorong mengurangi produksi sampah, memilah sejak dari rumah, serta memanfaatkan kembali sampah yang masih bernilai.
"Semua harus bergerak," katanya.
Ia berharap target pengurangan 20 persen tidak berhenti sebagai angka di atas kertas. Semakin besar partisipasi masyarakat, semakin besar pula sampah yang dapat dicegah masuk ke tempat pemrosesan akhir.
"Ini soal harga diri kita," ujar Herman.