JAWA BARAT — Laga hidup-mati di Stadion Hard Rock, Miami, ini akan dimulai pukul 17.00 waktu setempat atau pukul 22.00 WIB. Namun, suhu yang terasa di lapangan bisa mencapai 45 derajat Celcius akibat efek thermal blanket dari debu Sahara yang menyelimuti kawasan Florida Selatan. Situasi ini memaksa wasit kemungkinan besar akan memberikan jeda minum (hydration break) di setiap babak.
Menurut laporan meteorolog setempat, suhu udara memang tercatat di kisaran 35 derajat Celcius. Namun, kelembaban tinggi dan partikel debu dari gurun Sahara membuat suhu yang dirasakan tubuh (feels like temperature) bisa melonjak hingga 10 derajat lebih tinggi. Kondisi ini disebut sebagai faktor utama yang meningkatkan risiko penyakit terkait panas, terutama bagi pemain yang tidak terbiasa dengan iklim subtropis.
Kabar baiknya, debu Sahara justru mengurangi potensi badai petir yang kerap menunda pertandingan di turnamen ini. Sepanjang Piala Dunia edisi kali ini, beberapa laga sempat tertunda akibat sambaran petir di sekitar stadion, termasuk saat final Klub Dunia tahun lalu di kota yang sama.
Tim asuhan Thomas Tuchel datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menaklukkan Meksiko di ketinggian Stadion Azteca pada babak sebelumnya. Namun, pelatih asal Jerman itu mengakui bahwa panas lembab di Miami adalah tantangan yang berbeda. "Bermain di ketinggian menguji paru-paru, tapi bermain di panas seperti ini menguji seluruh sistem tubuh," ujar Tuchel dalam konferensi pers sebelum laga.
Inggris dipastikan tanpa bek Jarell Quansah yang terkena akumulasi kartu dan gelandang Jordan Henderson yang masih cedera. Jude Bellingham diharapkan menjadi motor serangan untuk menembus pertahanan Norwegia di tengah kondisi yang melelahkan.
Pihak penyelenggara menegaskan bahwa pertandingan sebesar ini hampir mustahil ditunda atau dipindahkan karena cuaca panas. Satu-satunya faktor yang bisa mengubah jadwal hanyalah ancaman badai petir yang membahayakan penonton dan pemain. "Risiko utama saat ini adalah kelelahan panas, bukan sambaran petir," kata seorang perwakilan National Weather Service.
Jika suhu di lapangan benar-benar mencapai 45 derajat, laga ini akan menjadi salah satu pertandingan terpanas dalam sejarah Piala Dunia. Rekor tertinggi masih dipegang oleh Republik Irlandia saat melawan Meksiko di Piala Dunia 1994, yang saat itu suhu mencapai 43 derajat Celcius. Sementara di turnamen edisi kali ini, laga terpanas sebelumnya terjadi antara Prancis dan Paraguay di Philadelphia dengan suhu 38 derajat Celcius.