JAWA BARAT — Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) angkat bicara soal nasib insentif kendaraan listrik yang hingga kini tak kunjung dirilis. Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, justru meminta para pemangku kepentingan untuk tidak terlalu bergantung pada kebijakan tersebut.
Putu menilai, persaingan harga di segmen kendaraan listrik roda dua dan roda empat saat ini sudah sangat ketat. “Abaikan saja soal insentif yang belum turun. Harga sekarang sudah bersaing keras,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.
Pernyataan ini menarik karena selama setahun terakhir, publik dan pelaku industri kerap mendorong pemerintah untuk segera merealisasikan insentif guna mendongkrak adopsi kendaraan listrik. Namun, Gaikindo justru melihat momentum berbeda: pabrikan sudah saling potong harga secara alami tanpa menunggu stimulus.
Putu menjelaskan, volume penjualan kendaraan listrik mulai menunjukkan tren positif meski tanpa insentif baru. Ia mencontohkan beberapa merek motor listrik yang harganya sudah berada di kisaran Rp 15-25 juta, setara dengan motor bensin entry-level. “Kalau dulu selisihnya masih jauh, sekarang sudah tipis. Konsumen mulai melihat value-nya,” tambahnya.
Menurut data internal Gaikindo, kontribusi kendaraan listrik terhadap total penjualan nasional memang masih kecil. Namun, kurva pertumbuhannya dinilai cukup stabil untuk ukuran pasar yang masih dalam tahap edukasi.
Implikasi dari pernyataan Gaikindo ini cukup jelas bagi calon pembeli. Jika sebelumnya banyak yang menunda pembelian motor listrik karena menunggu insentif, kini argumen itu mulai gugur. Putu menegaskan bahwa harga yang ada di pasaran saat ini sudah mencerminkan daya saing riil.
“Tidak perlu menunggu insentif lagi. Kalau memang cocok dengan kebutuhan dan rute harian, beli sekarang saja,” ucapnya.
Meski begitu, Gaikindo tetap membuka pintu untuk diskusi lanjutan dengan pemerintah. Mereka berharap insentif yang direncanakan—seperti subsidi pembelian atau potongan pajak—bisa segera difinalisasi untuk mempercepat target net zero emission. Namun, untuk jangka pendek, asosiasi memilih realistis.
Pernyataan Gaikindo ini menjadi sinyal bahwa pasar kendaraan listrik Indonesia mulai memasuki fase maturitas. Alih-alih bergantung pada bantuan, pabrikan sudah beradaptasi dengan strategi harga agresif. Bagi konsumen yang masih ragu, mungkin ini saatnya membandingkan langsung biaya operasional motor listrik versus motor bensin di dealer terdekat.