JAWA BARAT — Pelatih asal Korea Selatan itu terkena sanksi akibat insiden kekerasan fisik terhadap pemain saat masih menangani Ulsan HD di liga tertinggi Korea. Namun, Shin langsung memberikan klarifikasi dalam jumpa pers jelang laga perdana Persija di Piala Presiden 2026, Sabtu (25/6/2026).
"Pertama-tama, sama sekali tidak ada masalah (dengan hukuman tersebut). Hukuman itu sama sekali bukan 10 tahun, dan sanksi tersebut 1 persen pun tidak mengganggu tugas saya sebagai pelatih Jakarta," tegas Shin.
Ia juga membantah kabar yang menyebut dirinya dijatuhi hukuman selama satu dekade. Shin menegaskan bahwa informasi tersebut tidak akurat dan tidak berdampak pada pekerjaannya di Persija.
Di sisi lain, Shin mengakui bahwa keputusan KFA terasa tidak adil baginya. "Sejujurnya, memang saya rasa tidak adil bagi saya, dan saya ingin menceritakan hal sebenarnya secara rinci kepada wartawan di sini," ungkapnya.
Meski begitu, mantan pelatih Timnas Indonesia dan Timnas Korea Selatan itu memilih menerima sanksi tersebut. "Sebagai mantan pelatih Ulsan HD, saya akan menerima hal tersebut dan melangkah maju," jelasnya.
Shin menegaskan bahwa kedatangannya ke Indonesia semata-mata untuk membawa Persija Jakarta berprestasi. "Saya datang ke sini demi tim Persija Jakarta, jadi ke depannya saya hanya akan fokus sepenuhnya untuk tim ini," tegasnya.
Ia tidak ingin polemik hukuman ini mempengaruhi internal Macan Kemayoran. Seluruh perhatiannya kini tercurah untuk persiapan musim baru kompetisi 2026/2027.
Pernyataan Shin muncul jelang laga perdana Persija di Piala Presiden 2026. Turnamen pramusim ini menjadi ajang pembuktian bagi tim asuhannya untuk menunjukkan kesiapan menghadapi musim kompetisi mendatang.
Dengan bantahan tegas soal sanksi 10 tahun, Shin memastikan tak ada gangguan dalam tugasnya. "Meskipun saya menerima keputusan hukuman tersebut, hal itu tidak memberikan pengaruh 1 persen pun terhadap tugas saya sebagai pelatih," pungkasnya.