Kawasan Gunung Kawi di Malang, Jawa Timur, tidak hanya dikenal sebagai satu titik ziarah tunggal, melainkan terdiri dari beberapa lokasi yang masing-masing memiliki cerita dan nilai spiritual berbeda. Bagi yang baru pertama kali berkunjung, mengetahui lokasi-lokasi utama ini akan membantu memahami mengapa kawasan tersebut begitu istimewa bagi para peziarah.
Setiap sudut kawasan Gunung Kawi menyimpan jejak sejarah, mulai dari makam tokoh yang dihormati, petilasan kerajaan kuno, hingga pohon yang dipercaya membawa berkah. Semua elemen ini saling melengkapi dan membentuk identitas Gunung Kawi sebagai kawasan wisata spiritual yang unik.
Artikel ini akan mengulas satu per satu lokasi penting di Gunung Kawi, mulai dari Pesarean, Keraton, pohon Dewandaru, hingga fasilitas pendukung lain yang biasa dikunjungi wisatawan maupun peziarah.
Pesarean menjadi pusat utama kawasan Gunung Kawi. Di sinilah makam Kanjeng Kyai Zakaria II atau Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono berada, berdampingan dalam satu bangunan cungkup yang dijaga dan dirawat oleh juru kunci secara turun-temurun.
Peziarah yang datang biasanya memanjatkan doa di area ini, mengikuti tata cara yang sudah menjadi kebiasaan setempat. Suasana di dalam pesarean umumnya hening dan khidmat, dengan aroma dupa yang menjadi ciri khas ritual ziarah di banyak tempat keramat Jawa.
Bangunan pesarean ini juga dilengkapi dengan area untuk beristirahat dan berdoa lebih lama, mengingat banyak peziarah yang sengaja datang dari luar kota bahkan luar negeri dan menghabiskan waktu cukup panjang di kawasan ini.
Sekitar lima kilometer di atas area pesarean, terdapat lokasi yang dikenal dengan nama Keraton, yaitu petilasan Prabu Sri Kameswara. Lokasi ini berbeda dari pesarean utama dan biasanya dikunjungi oleh peziarah yang ingin menelusuri jejak sejarah kerajaan Jawa kuno yang lebih dalam.
Medan menuju Keraton relatif lebih menantang dibanding area pesarean karena berada lebih tinggi di lereng gunung, sehingga membutuhkan stamina lebih bagi pengunjung yang ingin mencapainya, baik dengan berjalan kaki maupun kendaraan tertentu.
Suasana di Keraton umumnya lebih sepi dan asri dibanding area pesarean utama, menjadikannya pilihan bagi mereka yang mencari ketenangan lebih dalam suasana pegunungan yang masih alami.
Salah satu daya tarik khas Gunung Kawi adalah pohon Dewandaru yang tumbuh di area pesarean. Menurut legenda yang diwariskan turun-temurun, pohon ini berasal dari tongkat Eyang Djoego yang ditancapkan ke tanah dan tumbuh menjadi pohon besar hingga sekarang.
Masyarakat dan peziarah mempercayai bahwa buah maupun ranting yang jatuh dari pohon ini membawa berkah tersendiri bagi yang mendapatkannya. Kepercayaan inilah yang membuat area sekitar pohon Dewandaru kerap dipadati pengunjung, terutama pada momen-momen tertentu yang dianggap istimewa.
Di sekitar pohon Dewandaru biasanya juga terdapat area duduk bagi peziarah yang ingin menunggu lebih lama, sambil merenung atau sekadar menikmati suasana teduh di bawah rindangnya pohon tersebut.
Selain lokasi-lokasi bernilai spiritual, Gunung Kawi juga memiliki kawasan pertokoan yang menjual berbagai suvenir khas, mulai dari kerajinan tangan, aksesoris, hingga jajanan lokal. Kawasan ini biasanya ramai dilewati peziarah sebelum maupun sesudah berkunjung ke area pesarean.
Sebagian toko juga menjual barang-barang yang dipercaya memiliki nilai spiritual tertentu, mengikuti tradisi masyarakat setempat. Namun, wisatawan disarankan untuk bijak dan tidak mudah percaya pada klaim berlebihan terkait khasiat suatu barang.
Keberadaan kawasan pertokoan ini juga menjadi salah satu sumber penghidupan warga sekitar, sehingga turut menghidupkan roda perekonomian lokal di kawasan lereng Gunung Kawi.
Karena banyak peziarah yang datang dari luar kota dan ingin bermalam, kawasan Gunung Kawi dilengkapi dengan sejumlah penginapan sederhana hingga yang lebih nyaman. Sebagian penginapan ini dikelola langsung oleh warga setempat secara turun-temurun.
Selain penginapan, tersedia pula rumah makan dan warung yang menyajikan menu khas Jawa Timur, memudahkan pengunjung untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan aktivitas ziarah maupun menikmati suasana kawasan.
Fasilitas pendukung lain seperti area parkir dan tempat ibadah umum juga tersedia, mengingat kawasan ini dikunjungi oleh peziarah dari berbagai latar belakang kepercayaan.
Sebagian besar peziarah memilih datang menjelang malam-malam tertentu dalam kalender Jawa yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. Pada momen-momen tersebut, kawasan Gunung Kawi biasanya jauh lebih ramai dibanding hari biasa.
Bagi wisatawan yang lebih mengutamakan kenyamanan dan suasana yang tenang, berkunjung pada hari biasa di luar momen-momen tersebut bisa menjadi pilihan yang lebih baik, karena kawasan cenderung lebih lengang.
Apa pun waktu kunjungannya, disarankan bagi pengunjung untuk tetap menjaga sikap dan menghormati tata krama setempat, mengingat kawasan ini memiliki nilai sakral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat sekitar maupun peziarah lain.
Untuk mengetahui kepercayaan seputar weton yang dianggap perlu berhati-hati saat berziarah ke kawasan ini, simak juga artikel Kenapa Weton Wage dan Pahing Sering Disebut Dilarang ke Gunung Kawi? Ini Penjelasannya.