BANDUNG — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung memastikan kesiapan sarana pengangkutan sampah menjelang dialihkannya pengelolaan dari TPA Sarimukti ke TPPAS Legok Nangka. Saat ini, sebagian armada telah dimiliki dan akan terus ditambah dalam dua hingga tiga tahun ke depan hingga mencapai 80 sampai 100 unit.
Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 DLH Kota Bandung, Salman Faruq, mengatakan penambahan armada tidak hanya mengandalkan pengadaan daerah. Pihaknya juga membuka peluang dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui kerja sama dengan Pemerintah Belanda.
“Kami sudah memiliki sebagian armada. Ke depan akan terus ditambah. Bahkan ada rencana bantuan armada tertutup melalui Pemerintah Provinsi yang bekerja sama dengan Pemerintah Belanda,” ungkapnya, Selasa (4/8/2026).
Spesifikasi armada menjadi perhatian utama DLH. Kendaraan pengangkut harus memiliki kemampuan mesin yang mumpuni karena jalur menuju Legok Nangka cukup menanjak. Selain itu, seluruh armada diwajibkan menggunakan sistem tertutup atau compactor.
“Armadanya harus benar-benar fit karena akses menuju Legok Nangka cukup menanjak. Selain itu, seluruh armada diharapkan menggunakan sistem tertutup atau compactor sehingga pengangkutan lebih aman, tidak mengganggu lingkungan, dan air lindi dapat tertampung dengan baik,” jelas Salman.
Pemkot Bandung tidak sekadar menyiapkan transportasi. Ada target lebih ketat: sampah yang dikirim ke Legok Nangka harus berupa residu hasil pemilahan. Hal ini untuk memastikan tidak ada muatan yang ditolak saat tiba di lokasi.
“Kami terus menyiapkan sistem pemilahan. Harapannya, sampah yang masuk ke Legok Nangka benar-benar residu sehingga sesuai dengan ketentuan operasional yang ditetapkan,” kata Salman.
Komitmen pengiriman sampah ini sebenarnya telah diteken sejak 2021. Kota Bandung wajib mengirimkan minimal 800 hingga 1.000 ton sampah domestik rumah tangga per hari ke TPPAS Legok Nangka.
Salman memastikan TPA Sarimukti akan ditutup oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat begitu Legok Nangka beroperasi. Kondisi Sarimukti saat ini dinilai sudah melebihi kapasitas atau overload.
“Kalau Legok Nangka sudah beroperasi, Sarimukti akan ditutup. Memang kondisinya sekarang sudah overload dan usia zona perluasannya juga sangat terbatas. Nantinya seluruh pengiriman sampah akan dialihkan ke Legok Nangka,” jelasnya.
Zona perluasan yang tengah dimanfaatkan di Sarimukti diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar dua tahun. Karena itu, masa transisi ini dimanfaatkan Pemkot Bandung untuk memperkuat pengurangan sampah dari hulu.
Selama masa transisi, DLH Kota Bandung mengoptimalkan pengurangan sampah sejak dari sumbernya. Edukasi pengurangan sampah rumah tangga dan kawasan komersial terus digencarkan, termasuk pengolahan sampah organik.
DLH juga tengah menguji teknologi pengolahan sampah organik bantuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Teknologi tersebut telah ditempatkan di enam kecamatan dan akan dievaluasi efektivitasnya.
“Kami sedang mengkaji efektivitas teknologi pengolahan organik dari BRIN. Kalau hasilnya baik dan cocok diterapkan di Kota Bandung, tentu akan kami perbanyak untuk pengolahan sampah organik skala komunal,” tutur Salman.
Sementara itu, kondisi pengelolaan sampah Kota Bandung saat ini relatif terkendali. Memasuki musim kemarau, proses pengangkutan menuju TPA Sarimukti berjalan lancar dengan rata-rata 1.000 ton sampah terangkut setiap hari, sehingga tidak terjadi penumpukan signifikan di tempat penampungan sementara (TPS).