BANDUNG — BPBD Provinsi Jawa Barat menyatakan belum ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa pascagempa magnitudo 5,3 yang menggunakan wilayah Pangandaran. Getaran terasa hingga ke Bandung Raya, Sukabumi, dan sebagian Jawa Tengah, meski dengan skala intensitas yang relatif rendah.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, mengatakan pihaknya masih melakukan pengecekan langsung ke lapangan. Instruksi asesmen telah diteruskan ke BPBD kabupaten/kota, terutama untuk memeriksa kemungkinan retakan halus pada bangunan di wilayah yang merasakan getaran cukup nyata.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun dari jaringan diseminasi BPBD, BMKG, dan komunitas radio amatir, intensitas guncangan tertinggi berada di skala III MMI. Pada skala ini, getaran terasa nyata di dalam rumah seolah-olah ada truk besar yang melintas.
Wilayah dengan intensitas III MMI meliputi Kecamatan Kertasari, Baleendah, Dayeuhkolot, Majalaya, Arjasari, dan Solokanjeruk di Kabupaten Bandung. Guncangan serupa juga dirasakan di Kecamatan Nagrak dan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, serta wilayah Cilacap, Jawa Tengah.
Adapun getaran dengan skala II-III MMI dilaporkan terjadi di Soreang, Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Ciwidey, dan Pangalengan. Sementara itu, warga di Sumedang, Parongpong, Cihanjuang, Ngamprah, Lembang, Garut, dan Palabuhanratu merasakan guncangan skala II MMI atau getaran ringan yang dirasakan sebagian orang.
Meski potensi kerusakan struktur dinilai sangat kecil, BPBD Jabar tidak tinggal diam. Instruksi pengecekan lapangan secara spesifik ditujukan kepada BPBD Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sukabumi karena dua wilayah ini mencatat intensitas getaran paling tinggi.
"Hasil pemantauan sementara menunjukkan intensitas guncangan tertinggi berada pada skala III MMI dan masih termasuk kategori ringan. Meskipun potensi kerusakan struktur sangat kecil, kami tetap meminta BPBD kabupaten dan kota melakukan pengecekan lapangan, terutama pada wilayah yang merasakan guncangan cukup nyata," ujar Teten dalam keterangan resmi.
Teten mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya. Sebelum kembali beraktivitas di dalam rumah, warga diminta memeriksa kondisi bangunan tempat tinggalnya terlebih dahulu.
Masyarakat juga diingatkan untuk hanya mengacu pada informasi resmi yang dikeluarkan BMKG, BPBD, dan instansi pemerintah terkait. Hal ini penting untuk mengantisipasi berita bohong atau hoaks yang kerap menyebar pascabencana.
Data yang disampaikan BPBD Jabar saat ini masih bersifat sementara. Laporan akan terus diperbarui seiring hasil verifikasi di lapangan dan perkembangan informasi dari BMKG serta BPBD kabupaten/kota terdampak.