BANDUNG — Ratusan mahasiswa itu akan disebar ke 44 desa dan kelurahan yang tersebar di sembilan kecamatan. Mereka didampingi 60 dosen pembimbing lapangan selama menjalani pengabdian.
Herman Suryatman mengatakan, pengalaman tinggal di tengah masyarakat menjadi bekal penting bagi lulusan. Menurutnya, KKN mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, berpikir kritis, hingga kolaborasi yang tidak didapat di bangku kuliah.
“KKN adalah wahana terbaik untuk mengasah soft skill, mulai dari komunikasi, kepemimpinan, critical thinking, hingga kemampuan berkolaborasi. Penguasaan hard skill saja tidak cukup menghadapi realitas setelah lulus,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima redaksi.
Salah satu tugas utama mahasiswa tahun ini adalah verifikasi faktual data ATS di Jawa Barat. Data yang akurat dinilai krusial agar pemerintah bisa merumuskan kebijakan pendidikan yang tepat sasaran.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Bandung Ijang Faisal menjelaskan, pendataan bukan sekadar aktivitas administratif. Kegiatan ini menjadi ikhtiar memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama atas pendidikan.
“Data yang akurat akan melahirkan kebijakan yang lebih tepat sasaran sehingga upaya penanganan anak tidak sekolah dapat dilakukan secara lebih efektif,” jelas Ijang.
UM Bandung membagi pelaksanaan KKN tahun ini ke dalam tiga kategori. Klaster pertama adalah KKN Internasional yang berlangsung di Malaysia dan Singapura untuk memperkuat jejaring global dan internasionalisasi nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan.
Klaster kedua merupakan KKN Muhammadiyah-Aisyiyah (KKN MAS) di Kabupaten Malang. Klaster ini menjadi ajang kolaborasi antarinstitusi di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Adapun klaster ketiga adalah KKN Reguler yang melibatkan 1.200 mahasiswa dari berbagai program studi. Mereka mengusung tema “Inovasi Berbasis Potensi Lokal untuk Desa Mandiri dan Berkelanjutan”.
Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto memberikan pesan tegas kepada para mahasiswa sebelum berangkat. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan KKN tidak diukur dari banyaknya program yang dibuat, melainkan dari kemampuan memahami kebutuhan masyarakat.
“Saya berharap mahasiswa datang ke desa bukan untuk menggurui, tetapi untuk belajar, memahami persoalan, dan bersama-sama menemukan akar masalah. Jangan mengutuk kegelapan, tetapi nyalakan lilin untuk menerangi kegelapan,” tuturnya.
Herry juga mendorong mahasiswa membangun kolaborasi dengan pemerintah desa, pelaku usaha, tokoh masyarakat, dan elemen lokal lainnya. Tujuannya agar setiap program yang dijalankan memberikan dampak berkelanjutan bagi warga.
Pemprov Jabar sendiri menyiapkan dukungan lintas perangkat daerah untuk mengawal mahasiswa di lapangan. Dinas Pendidikan, Biro Kesejahteraan Rakyat, hingga Dinas Komunikasi dan Informatika dilibatkan untuk menindaklanjuti temuan mahasiswa selama pengabdian.