JAWA BARAT — Jakarta — Geliat transformasi BUMN melalui Danantara pada paruh pertama 2026 belum berjalan seirama. Di tengah catatan positif dari raksasa energi, sejumlah perusahaan pelat merah lain masih tertekan oleh beban pendapatan dan biaya operasional yang belum efisien.
Data yang dihimpun Kontan menunjukkan, PT Pertamina (Persero) menjadi primadona dengan torehan laba Rp 32 triliun, tumbuh 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini ditopang oleh harga komoditas energi global yang masih stabil dan perbaikan tata kelola di sektor hilir.
Di sisi lain, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) lebih banyak menyita perhatian publik pada aspek perluasan akses. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, PLN berhasil menyambungkan listrik ke 200 desa terpencil di Indonesia Timur, sebuah langkah strategis yang belum tentu sejalan dengan profitabilitas jangka pendek.
Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk masih mengandalkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai motor bisnis. Hingga Juni 2026, BRI telah mengucurkan dana Rp 120 triliun ke sektor UMKM dengan bunga enam persen, namun margin bunga bersih (NIM) perusahaan mulai terkompresi akibat tekanan biaya dana.
Para analis menilai, efek berantai dari pembentukan Danantara memang membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan awal. Fokus superholding pada konsolidasi aset dan restrukturisasi portofolio dinilai belum menyentuh langsung efisiensi operasional di tingkat anak usaha.
“Transformasi struktural tidak bisa instan. Danantara baru efektif bergerak di kuartal kedua, sehingga kontribusinya terhadap laba bersih BUMN secara agregat baru akan terlihat pada laporan keuangan akhir tahun,” ujar seorang pengamat BUMN dari sebuah lembaga riset di Jakarta, Senin (14/7).
Selain itu, masih ada pekerjaan rumah besar terkait tumpang tindih peran antara direksi BUMN dengan jajaran manajemen Danantara. Kewenangan dalam pengambilan keputusan strategis, terutama untuk investasi baru, dinilai masih berada dalam proses transisi yang panjang.
Pemerintah optimistis pemerataan kinerja akan terjadi pada semester kedua. Fokus utama diarahkan pada penuntasan program efisiensi di sektor logistik dan konstruksi, dua bidang yang selama ini kerap menjadi sumber pembengkakan biaya.
Jika tren ini berlanjut, target dividen BUMN untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 berpotensi mengalami