JAKARTA — Pergerakan rupiah di pasar spot pada Senin ini menunjukkan momentum positif setelah sebelumnya sempat tertekan di level psikologis. Berdasarkan data penutupan, mata uang Garuda menguat signifikan dibandingkan perdagangan akhir pekan sebelumnya, menandakan adanya aliran modal asing yang masuk ke instrumen berdenominasi rupiah.
Level Rp17.810 per dolar AS ini menjadi catatan penting bagi pelaku pasar, mengingat dalam sepekan terakhir tekanan terhadap hampir semua mata uang Asia masih cukup kuat akibat ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Penguatan 87 poin ini tidak terlepas dari aksi ambil untung pelaku pasar asing yang sebelumnya agresif memegang dolar AS. Koreksi tipis indeks dolar terhadap sekeranjang mata uang utama memberi ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk bernapas.
Di sisi lain, pasar juga tengah bersikap wait and see terhadap data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut akan menjadi penentu utama bagi bank sentral AS dalam memutuskan arah suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Bagi pelaku usaha di Indonesia, penguatan tipis ini belum cukup untuk menurunkan biaya impor bahan baku secara signifikan. Namun, stabilitas nilai tukar di kisaran Rp17.800-an dinilai masih manageable bagi industri yang mengandalkan bahan baku impor, meski tekanan terhadap inflasi barang konsumsi masih tetap ada.
Kepala riset ekonomi di sejumlah bank asing menilai bahwa selama rupiah mampu bertahan di bawah level Rp17.900, tekanan terhadap pasar obligasi domestik akan berkurang. Hal ini berpotensi menahan arus keluar modal asing dari pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Fluktuasi nilai tukar dalam beberapa hari ke depan diprediksi masih akan tinggi. Pelaku pasar disarankan mencermati pidato pejabat bank sentral AS serta data ketenagakerjaan yang bisa memicu perubahan ekspektasi suku bunga secara tiba-tiba.
Sepanjang perdagangan Senin, pergerakan rupiah tercatat berada di kisaran yang relatif stabil dengan kecenderungan menguat di sesi sore. Level support terdekat berada di Rp17.800, sementara resistance psikologis masih menghadang di area Rp17.900.
Koreksi nilai tukar ini juga sejalan dengan pergerakan mata uang regional lain yang mayoritas menguat tipis terhadap dolar AS pada awal pekan, mencerminkan optimisme pasar terhadap pemulihan ekonomi kawasan Asia.