BOGOR — Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, Rino Indira, membeberkan kondisi kritis sistem distribusi air bersih di Zona 1 yang meliputi wilayah selatan Kota Bogor. Dalam kunjungan Komisi III DPRD Kota Bogor ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) Rancamaya, Kamis (9/7/2026), Rino mengungkapkan bahwa defisit pasokan telah berlangsung selama tiga tahun terakhir.
“Kita mengalami kekurangan pasokan sekitar 30 liter per detik di Zona 1. Selama tiga tahun terakhir, defisit ini kami tutupi dengan menyewa WTP milik Unitec,” ujar Rino.
Masa Sewa WTP Unitec Segera Berakhir September 2026
Persoalan semakin mendesak karena kontrak sewa WTP Unitec akan berakhir pada September 2026. Pemilik aset berencana menjual infrastruktur tersebut. Jika tidak ada pengganti, potensi krisis distribusi di Zona 1 dipastikan memburuk.
Saat ini, kapasitas distribusi Zona 1 hanya 140 lps yang berasal dari IPA Rancamaya (30 lps) dan Mata Air Tangkil (110 lps). Idealnya, kapasitas itu hanya cukup untuk 14.000 pelanggan, namun realitas di lapangan jumlahnya sudah mencapai 17.000 hingga 18.000 sambungan.
Investasi Rp134 Miliar, Baru Terealisasi Rp15 Miliar
Manajemen Tirta Pakuan sebenarnya telah merencanakan penambahan kapasitas hingga 200 lps di wilayah selatan sejak tiga tahun lalu. Namun, realisasi proyek strategis itu terbentur masalah pendanaan. Dari total kebutuhan investasi Rp134 miliar, dana yang baru terealisasi melalui Raperda Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) hanya Rp15 miliar.
Rino berharap, momentum kunjungan legislatif dapat mendorong peningkatan alokasi PMP pada tahun anggaran 2027. “Kemitraan strategis dengan DPRD sangat kami harapkan untuk mendanai proyek penuntasan krisis air bersih,” imbuhnya.
Fokus Ekspansi ke Tanah Sareal dan Bogor Barat Semester II 2026
Memasuki semester kedua tahun ini, prioritas perluasan jaringan dialihkan ke Kecamatan Tanah Sareal dan Bogor Barat. Kawasan Bogor Barat diproyeksikan mengalami alih fungsi lahan masif dari agraris menjadi pusat permukiman dan niaga baru, didorong pengembangan Terminal Bubulak dan akses jalan menuju kampus IPB Dramaga.
Tirta Pakuan tercatat telah mengantongi izin pemanfaatan air sebesar 240 lps. Namun, karena keterbatasan infrastruktur, kapasitas yang baru bisa dioptimalkan baru 30 lps. Artinya, potensi besar masih belum tergarap akibat minimnya investasi jaringan perpipaan.