Dalam wawancara dengan Ti Morse di podcast Relentless, Altman mengakui bahwa teknologi memang telah meningkatkan kualitas hidup dan waktu senggang manusia dibanding era mana pun dalam sejarah. Tapi itu tidak cukup. "Kami selalu menginginkan lebih. Kami memikirkan hal-hal baru untuk dilakukan, untuk diciptakan, untuk diinginkan," ujarnya.
Manusia Ciptakan Masalah Baru Saat Masalah Lama Selesai
Altman berargumen bahwa ekspektasi manusia naik seiring kemampuan teknologi. Saat AI mempermudah pekerjaan yang ada, manusia justru menciptakan produk, ambisi, dan masalah baru untuk dikejar. Bukan sekadar uang atau status, ia percaya manusia memiliki dorongan tulus untuk mencipta, berkontribusi, dan merasa berguna.
"Saya pikir kita semua akan jauh lebih sibuk dari yang kita kira di dunia pasca-superintelligence. Kita tetap akan mengeluh, tapi diam-diam kita akan bahagia," kata Altman menutup argumennya.
Janji 4 Hari Kerja yang Sirna—Kecuali bagi yang Di-PHK
Salah satu janji besar awal ledakan AI generatif adalah peningkatan produktivitas yang memungkinkan jam kerja lebih pendek dengan gaji tetap. Kenyataannya? Banyak pekerja justru kehilangan pekerjaan karena digantikan AI. Altman sendiri sebelumnya mengklaim bahwa "kiamat pekerjaan" akibat AI tak terjadi—meski definisi "kiamat" bisa diperdebatkan.
Pandangan Altman ini mendapat kritik. Ia dianggap mendasarkan asumsinya pada karier yang memuaskan secara kreatif—sulit membayangkan pekerja dengan pekerjaan monoton dan melelahkan jiwa menolak jam kerja lebih pendek dengan gaji sama.
Data Global Membantah: 4 Hari Kerja Justru Naikkan Pendapatan
Senator Bernie Sanders, dalam wawancara dengan Joe Rogan tahun lalu, menyatakan bahwa waktu ekstra yang dihemat pekerja berkat AI harus dikembalikan kepada mereka—bukan diisi dengan tugas tambahan. Sejumlah negara seperti Inggris, Prancis, Jepang, dan Jerman telah bereksperimen dengan minggu kerja empat hari tanpa pemotongan gaji.
Hasil studi global agregat menunjukkan pendapatan perusahaan naik 8 persen selama periode empat hari kerja. Kelelahan pekerja turun 10 persen, stres turun sekitar 35 persen, dan produktivitas tetap sama atau bahkan meningkat—di Microsoft Jepang, produktivitas naik 40 persen.
Apa Artinya bagi Pekerja Indonesia?
Di Indonesia, wacana empat hari kerja masih jauh dari realitas. Banyak sektor justru mendorong lembur dan budaya "sibuk" sebagai indikator produktivitas. Pernyataan Altman setidaknya mengonfirmasi satu hal: jika ada yang mengharapkan AI membebaskan manusia dari pekerjaan, jangan tahan napas. Manusia—atau setidaknya para bosnya—tampaknya lebih suka semua orang tetap sibuk.