Pencarian

Rencana Infantino Jual Saham Piala Dunia ke Investor Trump Tuai Kemarahan, Federasi Dipaksa Pilih sebelum 19 September

Kamis, 30 Juli 2026 • 02:56:01 WIB
Rencana Infantino Jual Saham Piala Dunia ke Investor Trump Tuai Kemarahan, Federasi Dipaksa Pilih sebelum 19 September
Infantino menjanjikan dana pengembangan Rp 640 miliar bagi anggota FIFA yang menyetujui rencana penjualan saham Piala Dunia ke investor terkait Trump sebelum 19 September.

JAWA BARAT — Rencana Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menjual kepemilikan saham turnamen sepak bola, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta melalui orang-orang terdekat Presiden AS Donald Trump memicu kemarahan besar. BBC Sport mengungkapkan bahwa Infantino menyebut langkah ini sebagai "demokratisasi sepak bola", namun para penggemar, politisi, dan badan regional justru bereaksi dengan rasa tidak percaya dan amarah.

Dana Segar Rp 120 Miliar sebagai Umpan, Federasi Dipaksa Cepat Memilih

Dalam surat yang dikirim ke 211 anggota FIFA, Infantino menjanjikan dana pengembangan sebesar 40 juta dolar AS atau sekitar Rp 640 miliar untuk seluruh negara anggota jika kesepakatan final tercapai. Namun ia memberi tenggat tegas: federasi harus menyetujui rencananya sebelum 19 September jika ingin mengakses dana awal sebesar 20 juta dolar AS (Rp 320 miliar).

"Keputusan apakah akan melanjutkan proposal ini sepenuhnya ada di tangan Anda. Sebagai imbalannya, yang diperlukan hanyalah kepercayaan Anda — yang lainnya tetap sama," tulis Infantino dalam surat tersebut, seperti dikutip BBC Sport.

Investor Terkait Trump: Josh Kushner dan Greg Maffei di Balik Layar

FIFA diketahui bernegosiasi dengan Thrive Capital, sebuah dana investasi yang dipimpin Josh Kushner — ipar dari Ivanka Trump, putri Presiden AS. Selain itu, Greg Maffei, mantan presiden pemilik Formula 1 Liberty Media yang pernah menyumbang dana kampanye Trump, bertindak sebagai "penasihat komersial kunci" bagi FIFA.

Hubungan Infantino dengan Trump memang sudah terjalin erat dalam beberapa tahun terakhir. Ia pernah memberikan "Peace Prize" kepada Trump, membuka kantor FIFA di Trump Tower New York, dan membiarkan trofi Piala Dunia Antarklub disimpan di Oval Office Gedung Putih. Bahkan, saat pidato pelantikan Trump yang mengancam Kanada dan Meksiko sebagai tuan rumah Piala Dunia, Infantino justru tertawa bersama.

Suara Mayoritas di Tangan Afrika dan Asia, Infantino Sulit Dilengserkan

Sejak terpilih pada 2016, Infantino membangun basis dukungan luas dari negara-negara Afrika, Asia, dan Amerika yang diuntungkan secara finansial dari kebijakannya. Ekspansi Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim, pertumbuhan pendapatan komersial, serta program hibah jutaan dolar setiap tahun ke negara anggota membuat lebih dari setengah dari 211 anggota FIFA berada di pihaknya.

Karena voting FIFA hanya membutuhkan suara mayoritas sederhana, rencana ini diperkirakan akan lolos. "Dukungan yang dinikmati Infantino tampaknya telah memperkuat pendekatannya terhadap kursi presiden," tulis laporan BBC. Keputusan kontroversial seperti pengenalan jeda hidrasi dan pertunjukan musik saat jeda Piala Dunia bahkan diambil tanpa voting anggota — sesuatu yang tak terbayangkan satu dekade lalu.

Kritik Mengarah pada Konflik Kepentingan: FIFA Non-Profit vs Investor Swasta

FIFA secara hukum adalah organisasi nirlaba di bawah hukum Swiss, yang secara teori bertujuan untuk kesejahteraan jangka panjang sepak bola, bukan mencari keuntungan. Namun menjual saham Piala Dunia — yang nilainya terus meningkat setiap edisi — kepada investor swasta berarti mereka akan ikut menikmati pertumbuhan pendapatan di masa depan.

Pembicaraan soal penjualan saham ini dilakukan FIFA secara sepihak, tanpa melibatkan negara dan badan regional, yang kemudian memicu kemarahan karena dianggap dilakukan di belakang mereka. Meski risiko politiknya besar, peluang Infantino untuk dilengserkan dari langkah ini dinilai sangat tipis mengingat kuatnya dukungan dari negara-negara berkembang yang bergantung pada dana FIFA.

Follow www.jabarviral.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bbc.co.uk

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks