JAWA BARAT — Bencana banjir November 2025 meninggalkan pekerjaan rumah besar di kawasan proyek PLTA Batang Toru. Lima menara transmisi roboh, memutus aliran listrik dari pembangkit di Kabupaten Tapanuli Selatan ke jaringan utama Sumatera. Situasi ini memperparah kondisi kelistrikan yang menurut pemerintah tengah kritis.
Yuliot menegaskan, pembangunan ulang menara transmisi kini berjalan dengan skema terakselerasi. "Pembangunan kembali jalur transmisi ini dilakukan secara terakselerasi agar energi listrik dari PLTA Batang Toru dapat disalurkan dengan optimal ke dalam jaringan transmisi Sumatera. Ini merupakan upaya percepatan kita untuk penyediaan dan keandalan energi secara nasional," ujarnya dalam kunjungan kerja, Jumat (31/7/2026).
Rekonstruksi masih berada pada tahap perancangan dan pengerjaan struktur pondasi menara. Meski demikian, pemerintah menargetkan pembangkit segera berstatus on-grid untuk mengatasi defisit pasokan.
Administrasi Beres, Uji Teknis Berjalan Paralel
Proyek yang digarap PT North Sumatera Hydro Energy bersama kontraktor Sinohydro Corporation Limited ini sempat tersendat urusan birokrasi. Kepastian hukum baru didapat setelah Menteri Lingkungan Hidup mencabut sanksi administratif melalui Keputusan Nomor 1444 Tahun 2026 pada 16 Maret 2026. Langkah itu menjadi lampu hijau bagi kelanjutan konstruksi yang sempat terhenti.
Untuk mengejar ketertinggalan, Kementerian ESDM menerapkan strategi paralel. Proses administrasi dijalankan bersamaan dengan uji teknis pembangkit yang membutuhkan genangan air sebagai syarat utama pengoperasian turbin. "Testing yang dilakukan ini namanya PLTA kan harus ada genangan. Kalau tidak ada genangan, testing tidak bisa kita lakukan. Berarti antara penyelesaian administratif dan juga pelaksanaan testing itu kita lakukan secara paralel," jelas Yuliot.
Target Bauran EBT 21 Persen di Ujung Tanduk
Kehadiran PLTA Batang Toru bukan sekadar menambah pasokan listrik. Pembangkit berkapasitas 510 MW ini menjadi andalan pemerintah untuk memenuhi target bauran energi hijau nasional yang saat ini baru menyentuh angka 16 hingga 17 persen. Tanpa percepatan operasi pembangkit-pembangkit besar seperti Batang Toru, target 21 persen pada akhir 2026 dipastikan meleset.
"Jika kita tidak melakukan percepatan-percepatan, maka target bauran energi 21% tidak akan tercapai hingga akhir tahun," tegas Yuliot.
Proyek yang mulai dibangun pada 1 September 2017 ini menempati area seluas 650 hektare. Seluruh pendanaan berasal dari penanaman modal asing (PMA), menjadikannya salah satu investasi infrastruktur energi terbesar di Sumatera Utara. Setelah rampung, aliran listrik dari PLTA ini diharapkan tidak hanya menstabilkan sistem kelistrikan Sumatera, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar fosil yang biaya operasionalnya lebih tinggi.