Gunung Kawi merupakan salah satu gunung tidak aktif yang terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Nama Gunung Kawi lebih dikenal luas bukan karena aktivitas vulkaniknya, melainkan karena keberadaan sebuah kawasan ziarah spiritual yang berada di lerengnya, yakni Pesarean Gunung Kawi.
Kawasan ini setiap harinya ramai dikunjungi peziarah, tak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dari mancanegara, terutama dari Singapura, Malaysia, dan Tiongkok. Popularitasnya tumbuh dari cerita turun-temurun tentang dua tokoh yang dimakamkan di sana dan dipercaya memiliki kesaktian semasa hidupnya.
Artikel ini mengulas sejarah dan legenda di balik Gunung Kawi, mulai dari asal-usul tokoh yang dimakamkan, cerita rakyat yang berkembang, hingga alasan kawasan ini tetap ramai dikunjungi hingga sekarang.
Letak Geografis Gunung Kawi
Secara administratif, kawasan Pesarean Gunung Kawi berada di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, meski namanya lebih dikenal mengikuti nama gunung di dekatnya. Lokasinya berjarak sekitar 53 kilometer dari pusat Kota Malang, dan bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.
Selain area pesarean, sekitar 5 kilometer di atasnya terdapat petilasan yang dikenal dengan nama Keraton, yaitu petilasan Prabu Sri Kameswara. Kawasan ini menambah nuansa sejarah yang melekat pada Gunung Kawi, karena dipercaya berkaitan dengan masa kerajaan Jawa kuno.
Suasana sejuk pegunungan serta rimbunnya pepohonan membuat kawasan ini juga menarik dikunjungi bukan hanya oleh peziarah, tetapi juga wisatawan yang sekadar ingin menikmati udara segar dan suasana khas lereng gunung di Jawa Timur.
Asal-usul Pesarean Gunung Kawi
Pesarean Gunung Kawi adalah makam dari Kanjeng Kyai Zakaria II, yang lebih dikenal dengan sebutan Eyang Djoego, dan Raden Mas Iman Soedjono. Keduanya dipercaya sebagai tokoh yang memiliki kedekatan dengan dunia spiritual serta berjasa dalam sejarah perjuangan di masa lampau.
Menurut cerita yang berkembang, Eyang Djoego dikenal sebagai sosok yang alim dan memiliki ilmu kanuragan tinggi, sementara Raden Mas Iman Soedjono dipercaya masih memiliki garis keturunan dengan lingkungan keraton Jawa. Kedekatan keduanya semasa hidup membuat mereka akhirnya dimakamkan berdampingan di kawasan ini.
Sejak wafatnya kedua tokoh tersebut, makam mereka mulai didatangi orang-orang yang ingin berziarah dan mendoakan, hingga lambat laun berkembang menjadi kawasan wisata spiritual yang dikenal luas seperti sekarang.
Legenda yang Berkembang di Masyarakat
Salah satu legenda paling populer tentang Gunung Kawi adalah kisah tentang pohon Dewandaru yang tumbuh di area pesarean. Konon, pohon ini berasal dari tongkat milik Eyang Djoego yang ditancapkan ke tanah dan kemudian tumbuh menjadi pohon yang bertahan hingga kini.
Masyarakat setempat mempercayai bahwa buah maupun ranting yang jatuh dari pohon Dewandaru membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya. Kepercayaan ini yang membuat banyak peziarah rela menunggu lama di sekitar pohon tersebut.
Selain legenda pohon Dewandaru, berkembang pula cerita rakyat mengenai kesaktian kedua tokoh yang dimakamkan di Gunung Kawi, termasuk berbagai kisah tentang pertolongan gaib yang konon dialami sejumlah peziarah setelah berkunjung ke sana.
Gunung Kawi sebagai Kawasan Wisata Spiritual
Seiring waktu, Gunung Kawi berkembang menjadi kawasan wisata spiritual yang cukup terorganisir. Di sekitar area pesarean, kini berdiri berbagai fasilitas pendukung seperti penginapan, rumah makan, hingga pertokoan yang menjual suvenir khas Gunung Kawi.
Ramainya kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari kalangan Tionghoa, turut memengaruhi wajah kawasan ini. Beberapa bangunan dan ornamen bernuansa Tionghoa dapat ditemukan di sekitar pesarean, mencerminkan akulturasi budaya yang terjadi selama puluhan tahun.
Kawasan ini biasanya paling ramai dikunjungi menjelang malam-malam tertentu dalam kalender Jawa yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi, seperti malam Jumat Legi maupun momen-momen keagamaan tertentu.
Gunung Kawi dalam Perspektif Budaya Jawa
Bagi masyarakat Jawa, Gunung Kawi bukan sekadar tempat wisata, melainkan bagian dari tradisi penghormatan kepada leluhur. Ziarah ke makam tokoh yang dihormati dipandang sebagai cara untuk mengenang jasa dan mengambil hikmah dari perjalanan hidup mereka.
Tradisi ini sejalan dengan kebiasaan masyarakat Jawa yang secara umum menjunjung tinggi penghormatan terhadap leluhur dan tokoh-tokoh yang dianggap berjasa, sebuah nilai budaya yang juga tecermin dalam berbagai kepercayaan primbon dan weton.
Karena itu, Gunung Kawi kerap disandingkan dengan pembahasan seputar weton dan primbon Jawa, termasuk kepercayaan tentang weton tertentu yang dianggap kurang cocok berziarah ke kawasan ini.
Daya Tarik Gunung Kawi bagi Wisatawan
Selain nilai spiritualnya, Gunung Kawi juga menawarkan daya tarik alam yang tak kalah menarik. Udara sejuk khas pegunungan, deretan pohon rindang, serta arsitektur bangunan lama di sekitar pesarean menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang datang bukan semata-mata untuk berziarah.
Perjalanan menuju kawasan pesarean juga menyuguhkan pemandangan khas pedesaan Jawa Timur, melewati perkebunan dan permukiman warga yang masih kental dengan suasana tradisional.
Kombinasi antara wisata spiritual dan wisata alam inilah yang membuat Gunung Kawi tetap ramai dikunjungi sepanjang tahun, tidak hanya oleh mereka yang datang untuk berdoa, tetapi juga oleh wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sisi budaya dan sejarah Jawa Timur.
FAQ Seputar Sejarah Gunung Kawi
- Di mana lokasi Gunung Kawi? Gunung Kawi terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar, dengan kawasan pesarean berada di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.
- Siapa yang dimakamkan di Pesarean Gunung Kawi? Pesarean ini merupakan makam Kanjeng Kyai Zakaria II (Eyang Djoego) dan Raden Mas Iman Soedjono.
- Apa itu pohon Dewandaru di Gunung Kawi? Pohon Dewandaru adalah pohon yang menurut legenda tumbuh dari tongkat Eyang Djoego, dan dipercaya membawa berkah bagi peziarah.
- Berapa jarak Gunung Kawi dari Kota Malang? Jaraknya sekitar 53 kilometer dari pusat Kota Malang.
- Apakah Gunung Kawi hanya dikunjungi peziarah lokal? Tidak. Kawasan ini juga ramai dikunjungi wisatawan mancanegara, terutama dari Singapura, Malaysia, dan Tiongkok.
Bagi yang penasaran dengan kepercayaan seputar weton tertentu yang dianggap perlu berhati-hati saat berziarah ke kawasan ini, dapat membaca ulasan lengkapnya di artikel Kenapa Weton Wage dan Pahing Sering Disebut Dilarang ke Gunung Kawi? Ini Penjelasannya.