BANDUNG — Kemunculan babi hutan yang meresahkan warga di dua titik berbeda di Jawa Barat akhirnya mendapat tanggapan resmi dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Pihaknya memastikan bahwa peristiwa ini merupakan bentuk konflik satwa liar dengan manusia yang dipicu oleh gangguan terhadap habitat alami.
Peristiwa terbaru terjadi di Dusun Pahing Blok Jati, RT 19 RW 06, Desa Subang, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan, Minggu (2/8) sekitar pukul 11.30 WIB. Seorang warga diseruduk babi hutan hingga tersungkur dan beruntung segera ditolong warga lain yang kemudian berhasil menangkap satwa tersebut.
Sebelumnya, kejadian serupa juga melanda Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat. Di lokasi tersebut, warga juga dilaporkan menjadi korban serangan babi hutan hingga mengalami luka-luka.
Bukan Sekadar Mencari Makan, Ini Kata BBKSDA
Humas BBKSDA Jawa Barat, Ery Mildrayana, menegaskan bahwa faktor pemicu kemunculan babi hutan tidak bisa disederhanakan hanya karena satwa tersebut mencari makan. Ada indikasi kuat bahwa perubahan perilaku ini disebabkan oleh tekanan terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.
"Banyak faktor penyebabnya, di antaranya sumber air, atau karena banyaknya pemburu liar masuk ke hutan terdekat," kata Ery Mildrayana, Selasa (4/8/2026).
Ia menambahkan, aktivitas manusia yang terus meningkat di dalam kawasan hutan membuat babi hutan merasa terganggu. Satwa omnivora ini kemudian mencari jalur jelajah baru yang kerap kali berakhir di area permukiman warga.
"Banyak orang keluar masuk hutan berdampak bagi babi hutan, terganggu dan juga dia nyari jalan jelajah lain, bisa jadi kalau menurut pandangan babi hutan adalah koridor jelajah. Banyak spekulasi faktor penyebabnya tuh," ungkapnya.
Ancaman Konflik Terbuka Selama Pemukiman Berdekatan dengan Hutan
Ery mengingatkan bahwa potensi konflik antara satwa liar dan manusia akan selalu terbuka selama masih ada permukiman yang berdampingan langsung dengan kawasan hutan. Babi hutan, menurutnya, adalah satwa yang secara naluriah bergerak secara berkelompok dan memiliki wilayah jelajah yang luas.
"Sepanjang berdekatan dengan hutan, memungkinkan. Satwa liar hakekatnya dia harus bergerak dan berkelompok. Mereka punya wilayah jelajah juga, bisa juga terpisah dari kelompok atau mencari kelompoknya. Tapi itu hanya dugaan sesuai karakter atau kebiasaan satwa liar ya," jelasnya.
Untuk memastikan penyebab pasti dari setiap kasus, BBKSDA Jabar menyatakan perlunya dilakukan peninjauan langsung terhadap kondisi hutan di sekitar lokasi kejadian. "Untuk memastikannya di antaranya perlu dilihat keberadaan hutan terdekat desa tersebut," pungkasnya.