Pencarian

Harga Bawang Merah dan Cabai di Jabar Turun, BPS Catat Deflasi 0,05 Persen pada Juli 2026

Senin, 10 Agustus 2026 • 13:32:01 WIB
Harga Bawang Merah dan Cabai di Jabar Turun, BPS Catat Deflasi 0,05 Persen pada Juli 2026
Petugas menunjukkan bawang merah dan cabai di Pasar Induk Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Senin (10/8/2026).

BANDUNG — Tekanan harga kebutuhan pokok di Jawa Barat mulai mereda pada Juli 2026. Berdasarkan data resmi BPS, terjadi deflasi 0,05 persen secara bulanan, ditopang oleh penurunan harga sejumlah komoditas strategis seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit, hingga telur ayam ras.

Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menjelaskan bahwa penurunan harga komoditas tersebut tidak terlepas dari musim panen yang berlangsung di beberapa daerah produsen. "Deflasi juga disebabkan oleh penurunan permintaan daging ayam dan telur ayam ras selama periode libur sekolah karena tidak berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG)," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (10/8/2026).

Andil Deflasi Terbesar: Bawang Merah dan Cabai

BPS merinci komoditas yang memberikan andil deflasi tertinggi secara bulanan. Bawang merah menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,09 persen, disusul cabai merah dan emas perhiasan yang masing-masing menyumbang 0,07 persen.

Cabai rawit memberikan andil deflasi sebesar 0,05 persen, sementara telur ayam ras menyumbang 0,04 persen. Kondisi ini menjadi kabar baik bagi ibu rumah tangga yang selama beberapa bulan terakhir mengeluhkan tingginya harga bumbu dapur.

Bensin dan Biaya Sekolah Justru Mengalami Kenaikan

Di sisi lain, tidak semua harga komoditas mengalami penurunan. BPS mencatat bensin menjadi penyumbang inflasi tertinggi secara bulanan dengan andil 0,09 persen. Kenaikan ini dipengaruhi oleh penyesuaian harga energi di SPBU.

Selain bensin, komoditas lain yang turut menyumbang inflasi adalah ketimun (0,02 persen), biaya sekolah dasar (0,02 persen), bawang putih (0,02 persen), dan mobil (0,01 persen). Kenaikan biaya pendidikan ini seiring dengan dimulainya tahun ajaran baru bagi sebagian sekolah.

Inflasi Tahunan Jabar Masih di Kisaran 2,72 Persen

Meski mengalami deflasi bulanan, secara year on year (y-on-y) Jawa Barat masih mencatat inflasi sebesar 2,72 persen pada Juli 2026. Angka ini menunjukkan laju kenaikan harga dalam satu tahun terakhir masih terkendali.

Adapun komoditas dengan andil inflasi tahunan tertinggi adalah emas perhiasan yang mencapai 0,62 persen, diikuti bensin 0,31 persen, minyak goreng 0,16 persen, beras 0,13 persen, dan sigaret kretek mesin 0,09 persen.

Neraca Perdagangan Jabar Surplus Hampir Rp 14 Miliar

Dalam kesempatan yang sama, BPS Jawa Barat juga merilis kinerja ekspor impor periode Januari-Juni 2026. Provinsi ini mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD 13,79 miliar, didorong oleh nilai ekspor yang mencapai USD 19,60 miliar.

Nilai ekspor tersebut meningkat 5,11 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sementara itu, total impor Jawa Barat tercatat sebesar USD 5,81 miliar pada periode enam bulan pertama tahun ini.

Pangsa pasar terbesar ekspor nonmigas masih didominasi oleh Amerika Serikat dengan nilai USD 3,26 miliar. Disusul Filipina sebesar USD 1,74 miliar dan Jepang USD 1,40 miliar. Ketiga negara tersebut berkontribusi hingga 32,95 persen terhadap total ekspor Jabar.

Untuk impor nonmigas, Tiongkok menjadi pemasok terbesar dengan nilai USD 2,30 miliar atau setara 41,85 persen dari total impor. Posisi berikutnya ditempati Korea sebesar USD 654,64 juta dan Jepang USD 651,17 juta.

Follow www.jabarviral.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: news.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks