JAWA BARAT — Laporan dari Economic Daily News (EDN), media asal Taiwan, mengungkapkan bahwa Microsoft telah memberlakukan kenaikan biaya lisensi Windows 11 untuk PC rakitan maupun laptop sejak bulan lalu. Kabar ini pertama kali disorot oleh Wccftech dan menjadi kekhawatiran baru di tengah gejolak harga komponen global.
Seorang eksekutif dari salah satu produsen PC yang tidak disebutkan namanya menyebut kenaikan tahun ini sebagai yang "signifikan" dibanding tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, Microsoft hanya menerapkan kenaikan satu digit atau di bawah 10 persen setiap tahunnya.
Dampak ke Harga PC: Konsumen dan Bisnis Belum Bereaksi
Menariknya, EDN melaporkan bahwa kenaikan biaya lisensi ini sebenarnya sudah masuk ke dalam harga jual PC yang beredar di pasaran. Namun, baik konsumen individu maupun korporasi disebut belum banyak bereaksi.
Pasalnya, kenaikan biaya dari sisi software ini relatif kecil jika dibandingkan dengan lonjakan harga hardware. Biaya produksi untuk RAM, SSD, hingga GPU yang terus meroket dalam beberapa bulan terakhir menjadi faktor utama yang mendorong harga PC naik jauh lebih agresif.
EDN memperkirakan harga PC dari Acer dan Asus di pasar Taiwan akan naik sekitar 5 persen pada kuartal ketiga 2026. Tentu saja, besaran kenaikan ini bisa berbeda di tiap wilayah dan merek, tetapi semua OEM tetap harus membayar biaya lisensi Windows 11 kepada Microsoft.
Kenaikan Lebih Tinggi untuk Prosesor Lebih Kencang
Detail lain yang perlu dicermati, laporan tersebut menyebutkan bahwa PC dengan prosesor lebih cepat mendapat beban kenaikan biaya lisensi yang lebih besar. Artinya, laptop atau PC desktop kelas atas dengan chip flagship akan merasakan dampak harga yang lebih signifikan dibandingkan perangkat entry-level.
Kebijakan ini, jika benar, berpotensi membuat celah harga antara PC kelas menengah dan kelas atas semakin lebar. Konsumen yang ingin membeli perangkat bertenaga tinggi harus merogoh kocek lebih dalam, bukan hanya untuk hardware-nya, tetapi juga biaya lisensi sistem operasinya.
Keputusan yang Tidak Populer di Tengah Tekanan Pasar
Dari sisi bisnis, kenaikan biaya produksi yang berujung pada harga jual lebih tinggi memang hal yang lumrah. Namun, tidak ada alasan jelas mengapa biaya lisensi software harus dinaikkan lebih tinggi dari biasanya, terlebih di saat daya beli masyarakat sedang tertekan.
Langkah ini terkesan seperti upaya Microsoft untuk memanfaatkan momentum, mungkin juga untuk menutup biaya investasi besar di bidang kecerdasan buatan (AI). Terlepas dari itu, kabar ini masih berupa rumor dan perlu diverifikasi lebih lanjut, meskipun EDN memiliki rekam jejak yang cukup baik dalam pemberitaan semacam ini.
Bagi calon pembeli di Indonesia, situasi ini menjadi pertimbangan tersendiri. Jika kenaikan harga ini terealisasi dan diikuti oleh distributor lokal, harga PC dan laptop di tanah air berpotensi ikut terkoreksi naik dalam beberapa bulan ke depan. Sebaiknya pantau terus perkembangan harga sebelum memutuskan untuk membeli.