Dampak awal musim kemarau sudah mulai terlihat di sejumlah titik. Di kawasan Hegarmanah, aliran Sungai Cikapundung menyusut drastis sehingga dasar sungai dan tumpukan sampah yang selama ini terendam air kini tampak ke permukaan. Warga terlihat mengambil sampah di aliran sungai tersebut pada Selasa (21/7/2026).
Pemkot Bandung sebelumnya telah memetakan wilayah rawan kekeringan. Berdasarkan data BMKG, ada 13 kecamatan yang masuk dalam zona rawan krisis air bersih saat puncak kemarau nanti. Wilayah-wilayah itu tersebar di bagian utara hingga selatan kota.
Kepala pelaksana BPBD Kota Bandung menyebut kesiapan dropping air bersih menjadi prioritas utama. Armada tangki air akan disiagakan untuk melayani permintaan warga yang kesulitan mendapatkan air bersih.
Status siaga darurat yang ditetapkan bukan sekadar prosedur administratif. Pemerintah kota wajib mengaktifkan posko pengaduan, menyiapkan logistik, dan berkoordinasi dengan Perumda Tirtawening selaku pengelola air minum. Warga diimbau mulai menampung air hujan dan menggunakan air secara bijak sejak sekarang.
Kekeringan tahunan di Bandung kerap diperparah oleh alih fungsi lahan di kawasan resapan air di utara kota. Meski begitu, antisipasi teknis seperti normalisasi sungai dan sumur resapan terus dilakukan.
BMKG mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu hingga krisis benar-benar terjadi. Pemanfaatan air tanah secara berlebihan justru bisa mempercepat penurunan muka tanah di Bandung. "Kami minta warga melapor jika sumur mulai mengering, jangan menunggu sampai benar-benar habis," ujar Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat.
Puncak kemarau tahun ini diprediksi tidak lebih ekstrem dibanding tahun lalu. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat pola curah hujan yang makin tidak menentu akibat perubahan iklim.