KARAWANG — Lonjakan kekayaan para konglomerat di Singapura pada tahun ini tidak lepas dari pemulihan industri semikonduktor dan ekspansi bisnis digital. Data Forbes Real-Time Billionaires per Juli 2026 mencatat, dari sepuluh nama terkaya, hampir separuhnya berasal dari sektor teknologi tinggi dan manufaktur canggih.
Posisi pertama ditempati Jason Chang dengan total kekayaan US$ 21,7 miliar. Pendapatan itu ditopang oleh kinerja impresif ASE Technology Holding, perusahaan jasa perakitan dan pengujian semikonduktor independen terbesar di dunia. Chang juga menggenggam portofolio properti melalui Sino Horizon Holdings yang memperkuat posisinya di tengah volatilitas pasar global.
Berikut adalah deretan miliarder Singapura beserta sektor usahanya berdasarkan data terkini:
Pergeseran ini tidak terlepas dari ledakan kecerdasan buatan atau AI yang membutuhkan chip canggih. ASE Technology Holding milik Jason Chang memainkan peran vital dalam rantai pasok semikonduktor global. Di sisi lain, kenaikan peringkat Forrest Li dan Gang Ye dari Sea Limited menegaskan bahwa ekonomi digital tetap menjadi mesin pertumbuhan yang krusial bagi Singapura.
Sektor kesehatan yang diwakili Li Xiting melalui Mindray Medical juga menunjukkan stabilitas. Permintaan global akan infrastruktur medis pasca-transformasi kesehatan dunia membuat perusahaannya terus tumbuh.
Para konglomerat ini tidak hanya mengandalkan satu sektor. Strategi diversifikasi aset dan adaptasi terhadap inovasi menjadi faktor utama di balik kesuksesan mereka. Jason Chang, misalnya, tidak hanya bergantung pada semikonduktor tetapi juga properti. Sementara itu, keluarga Ng dan Kwek Leng Beng yang selama ini mendominasi sektor properti kini harus berbagi panggung dengan raksasa teknologi.
Struktur kekayaan ini menunjukkan bahwa Singapura tetap menjadi hub bagi para visioner industri untuk mengelola dan mengembangkan aset mereka di skala internasional. (rk)