BANDUNG — Tekad Fatin Nur Aisyah Binti Ahmad Azfian untuk mendalami ilmu agama membawanya merantau ribuan kilometer dari Kuala Lumpur ke Kota Bandung. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung ini mengaku proses memilih kampus tidak dilakukan secara terburu-buru.
Fatin mengenal UM Bandung melalui lembaga pemberi beasiswa yang membiayai studinya. Sebelum memutuskan, ia aktif mencari informasi melalui media sosial karena kampus tersebut dinilainya sangat aktif dalam publikasi digital.
"Saya tahu UM Bandung dari pihak pemberi beasiswa. Selain itu, saya juga sering melihat informasi tentang UM Bandung di media sosial karena kampus ini sangat aktif," ujarnya usai mengikuti ujian akhir semester di Kampus UM Bandung, Jumat (31/7).
Fatin sebenarnya memiliki peluang untuk memilih berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pada 2025, ia sempat mengunjungi beberapa kampus sebelum akhirnya menetapkan hati di UM Bandung.
"Saya sebenarnya ditawarkan kuliah di universitas mana saja di Indonesia. Namun, saat itu pendaftaran kampus negeri sudah ditutup. Dari pihak pemberi beasiswa kemudian menyarankan saya melihat beberapa kampus dan akhirnya saya memilih UM Bandung," tuturnya.
Pemilihan Prodi PAI juga melalui pertimbangan matang. Beasiswa yang diterimanya memang diperuntukkan bagi bidang pendidikan. Latar belakang pendidikan menengahnya di jurusan agama dan ekonomi membuat Prodi PAI dinilai paling sesuai dengan minat dan cita-citanya.
Selama menjalani perkuliahan, Fatin merasakan lingkungan akademik yang hangat. Dosen yang terbuka dan teman-teman yang memberikan suasana belajar positif membuatnya tidak pernah menyesali keputusan tersebut.
"Alhamdulillah, saya merasa nyaman kuliah di Prodi PAI. Dosen-dosennya baik, teman-temannya juga memberikan vibe yang positif. Suasannya jauh berbeda dibandingkan dengan ketika masih menjalani tahun persiapan bersama pada semester pertama," katanya.
Di luar aktivitas kuliah, Fatin aktif mengikuti program pengembangan diri dari lembaga pemberi beasiswa. Hampir setiap bulan hingga semester, ia mengikuti kegiatan camp yang dirancang untuk mengasah kepemimpinan, kemampuan komunikasi, dan pembentukan karakter.
Perempuan yang gemar bermain badminton dan menonton film ini mengaku tidak kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di Kota Bandung. Justru kuliner khas Indonesia menjadi salah satu hal yang paling dinikmatinya.
"Sejauh ini makanan di Indonesia cocok dengan saya karena memang saya suka makan. Favorit saya mie ayam dan nasi Padang. Kalau jajanan, saya paling suka martabak dan batagor," ujarnya sambil tersenyum.
Meski masih berstatus mahasiswa, Fatin telah memiliki gambaran jelas tentang masa depannya. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia akan menjalani kontrak kerja selama tiga tahun di bawah lembaga pemberi beasiswa. Penugasannya dapat berlangsung di sekolah-sekolah yayasan, baik di Malaysia maupun Indonesia.
Kaprodi PAI UM Bandung Iim Ibrohim mengapresiasi semangat dan keteguhan Fatin yang memilih menempuh pendidikan jauh dari keluarga. Menurutnya, perjalanan mencari ilmu merupakan ikhtiar yang memiliki kedudukan mulia dalam ajaran Islam.
Iim mengingatkan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk menjelajahi bumi mencari karunia-Nya sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Mulk ayat 15. Ia juga menyinggung hadis riwayat Muslim bahwa siapa pun yang menempuh jalan untuk mencari ilmu akan dimudahkan jalannya menuju surga.
Sejarah telah membuktikan banyak ulama dan tokoh besar Islam meninggalkan kampung halamannya demi menuntut ilmu, seperti Imam Asy-Syafii dan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Kisah Fatin menjadi cerminan bahwa UM Bandung semakin dikenal hingga tingkat internasional melalui kualitas akademik dan lingkungan belajar yang kondusif.