BANDUNG — Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Muhamad Syahlevi Erwin Apandi, menilai kader Posyandu tidak lagi cukup hanya melayani pemeriksaan gizi dan kesehatan ibu-anak. Mereka kini dituntut mampu menjadi pendengar pertama bagi remaja yang mengalami tekanan psikologis, sekaligus menjadi filter informasi bagi orang tua.
Hal itu disampaikan Syahlevi saat membuka Pelatihan Dukungan Psikologi Awal bagi Kader Posyandu se-Kecamatan Arcamanik pada Selasa (4/8/2026). Pelatihan ini menyasar puluhan kader yang selama ini bertugas di lapangan.
Menurut Syahlevi, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Kecepatan dan volume informasi dari media digital membuat anak-anak rentan mengalami kecemasan berlebih atau overthinking.
"Gen Z perlu mendapat perhatian lebih dari orang tua karena banyak informasi setiap saat diterima, sehingga perlu pendampingan agar mampu menyaring informasi yang diterima," ujar Syahlevi.
Politisi itu menambahkan, informasi yang dikonsumsi anak-anak harus sesuai dengan usia dan tingkat kematangan berpikir. Jika tidak, informasi tersebut berpotensi memicu pola pikir negatif dan gangguan kesehatan mental.
Syahlevi menekankan posisi strategis kader Posyandu yang berada paling dekat dengan masyarakat. Dengan kemampuan dukungan psikologis awal, kader dapat mendeteksi dini berbagai persoalan keluarga, termasuk potensi terjadinya perkawinan usia anak.
"Saya berharap kader Posyandu dapat lebih bijak saat menerima keluhan atau persoalan yang disampaikan anak maupun orang tua. Dengan pemahaman yang baik, kader bisa membantu mencegah dampak negatif dari berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat," katanya.
Ia mencontohkan, banyak kasus perkawinan usia anak berawal dari pergaulan yang tidak terawasi serta lemahnya komunikasi antara orang tua dan anak. Kehadiran kader yang paham psikologi remaja diharapkan mampu menjembatani kesenjangan tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Syahlevi menyebut Pemerintah Kota Bandung telah menyediakan berbagai fasilitas pendukung bagi anak dan keluarga. Ia menilai fasilitas tersebut sudah cukup memadai, sementara program-program lain akan terus dijalankan secara bertahap sesuai prioritas pembangunan daerah.
Pelatihan ini menjadi langkah konkret mentransformasi Posyandu dari sekadar pusat layanan kesehatan menjadi ruang edukasi dan pendampingan sosial. Ke depan, diharapkan kader di kecamatan lain di Kota Bandung juga mendapatkan pelatihan serupa.