BANDUNG — Kelas menengah Jawa Barat masih menghadapi tekanan daya beli kendati indikator makro ekonomi menunjukkan kinerja positif. Data terbaru BPS mencatat deflasi bulanan terjadi pada Juli 2026, tetapi pelemahan konsumsi kelompok menengah ke bawah belum pulih sepenuhnya.
Deflasi 0,05 persen secara month-to-month (m-to-m) itu utamanya dipicu oleh panen raya di sejumlah sentra produksi. Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menyebut komoditas seperti bawang merah dari Kabupaten Bandung dan Garut serta cabai dari luar provinsi mengalami penurunan harga signifikan.
"Deflasi juga disebabkan oleh penurunan permintaan daging ayam dan telur ayam ras selama periode libur sekolah karena tidak berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG)," ujar Margaretha dalam Rilis Berita Resmi Statistik, Senin (3/8/2026).
Bawang merah memberikan andil deflasi terdalam sebesar 0,09 persen. Disusul cabai merah (0,07 persen), emas perhiasan (0,07 persen), cabai rawit (0,05 persen), dan telur ayam ras (0,04 persen).
Di sisi lain, tekanan inflasi bulanan justru datang dari bensin (0,09 persen), ketimun (0,02 persen), sekolah dasar (0,02 persen), bawang putih (0,02 persen), dan mobil (0,01 persen). Kenaikan harga energi dan biaya pendidikan menjadi beban tambahan bagi rumah tangga kelas menengah yang sedang berhemat.
Secara year on year (y-on-y), inflasi Jawa Barat tercatat 2,72 persen. Komoditas penyumbang inflasi tahunan terbesar adalah emas perhiasan (0,62 persen), bensin (0,31 persen), minyak goreng (0,16 persen), beras (0,13 persen), dan sigaret kretek mesin (0,09 persen).
Tingginya andil emas perhiasan dan bensin mengindikasikan masyarakat kelas menengah lebih memilih menyimpan nilai dalam aset logam mulia ketimbang membelanjakan uangnya untuk barang konsumsi. Pola ini kerap muncul saat daya beli melemah dan ketidakpastian ekonomi meningkat.
Kontras dengan pelemahan konsumsi rumah tangga, kinerja ekspor Jawa Barat justru moncer. Sepanjang Januari-Juni 2026, nilai ekspor mencapai USD 19,60 miliar atau naik 5,11 persen dibanding periode sama tahun lalu. Impor hanya USD 5,81 miliar, menghasilkan surplus perdagangan USD 13,79 miliar.
Pasar utama ekspor nonmigas Jabar masih didominasi Amerika Serikat (USD 3,26 miliar), Filipina (USD 1,74 miliar), dan Jepang (USD 1,40 miliar). Ketiganya berkontribusi 32,95 persen dari total ekspor.
Sementara itu, Tiongkok menjadi pemasok impor nonmigas terbesar dengan nilai USD 2,30 miliar atau 41,85 persen dari total impor, disusul Korea (USD 654,64 juta) dan Jepang (USD 651,17 juta).
Surplus neraca dagang yang besar ini belum otomatis berdampak pada menguatnya daya beli domestik. Para analis menilai pertumbuhan ekonomi yang ditopang ekspor komoditas tidak selalu sejalan dengan peningkatan upah riil dan lapangan kerja formal bagi kelas menengah perkotaan di Bandung Raya dan sekitarnya.
Pemprov Jawa Barat diharapkan segera mendorong belanja sosial dan program padat karya untuk menjembatani kesenjangan antara kinerja ekspor yang kuat dengan konsumsi rumah tangga yang masih lesu. Tanpa intervensi tersebut, tekanan daya beli kelas menengah dikhawatirkan berlanjut hingga kuartal berikutnya.