Dalam tradisi masyarakat Jawa, perhitungan jodoh tidak melulu soal rasa cinta semata, tetapi juga mempertimbangkan weton atau hari dan pasaran kelahiran calon pasangan. Kepercayaan ini masih dipegang teguh oleh sebagian keluarga, terutama saat merencanakan pernikahan.
Perhitungan tersebut dikenal dengan istilah neptu, yaitu penjumlahan nilai hari dan pasaran kelahiran kedua calon mempelai. Hasil penjumlahan ini kemudian ditafsirkan untuk melihat potensi kecocokan maupun risiko yang mungkin muncul dalam rumah tangga kelak.
Artikel ini akan mengulas beberapa kombinasi weton yang menurut Primbon Jawa dianggap kurang baik untuk pernikahan, lengkap dengan makna di balik masing-masing hitungan neptu tersebut.
Cara Menghitung Neptu Weton Jodoh
Perhitungan jodoh dalam Primbon dilakukan dengan menjumlahkan neptu hari dan neptu pasaran kelahiran masing-masing calon pasangan. Setiap hari dan pasaran dalam kalender Jawa memiliki nilai neptu tersendiri yang sudah baku dalam tradisi ini.
Setelah kedua neptu dijumlahkan, hasilnya dibagi dengan angka 7. Apabila sisa pembagian melebihi 7, maka pembagi yang digunakan tetap 7 hingga diperoleh angka sisa yang tidak lebih dari 7. Angka sisa inilah yang kemudian menjadi dasar penentuan watak hubungan menurut kepercayaan Jawa.
Setiap angka sisa memiliki penamaan dan makna filosofis tersendiri, mulai dari pertanda rezeki, kecocokan, hingga potensi konflik dalam rumah tangga yang akan dijalani kedua mempelai.
Kombinasi Wage-Pahing dan Neptu 25 yang Paling Dihindari
Kombinasi weton Wage dan Pahing dikenal dengan istilah 'Gehing' dalam tradisi Jawa, dengan hasil neptu 15 yang disebut Padu atau pertanda pertengkaran. Wage yang digambarkan bersifat seperti minyak dan Pahing yang bersifat seperti air dipercaya kerap memicu perselisihan berkepanjangan dalam rumah tangga, mulai dari persoalan finansial hingga perbedaan pendapat yang tajam.
Selain itu, hitungan neptu yang berjumlah 25 dianggap sebagai salah satu yang paling ditakuti dalam tradisi perjodohan Jawa, dengan sebutan Sujanan atau kecurigaan. Banyak orang tua secara tegas melarang anaknya melanjutkan hubungan jika hasil hitungannya jatuh pada angka ini, karena dipercaya membawa potensi perselisihan besar hingga hadirnya pihak ketiga dalam rumah tangga.
Kombinasi lain yang juga diwaspadai adalah neptu dengan sisa 5, yang dikenal dengan istilah Satriya Wirang atau ksatria yang dipermalukan. Pasangan dengan hitungan ini dipercaya akan menghadapi banyak ujian terkait kehormatan dan kebahagiaan rumah tangga di kemudian hari.
Solusi Tradisional Jika Terlanjur Berjodoh Weton Kurang Baik
Bagi pasangan yang terlanjur memiliki hitungan weton yang dianggap kurang baik namun tetap ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan, masyarakat Jawa mengenal beberapa ritual penolak bala yang dipercaya dapat menetralisir energi negatif tersebut.
Salah satu solusi yang umum dilakukan adalah menyembelih ayam sebelum upacara pernikahan berlangsung, sebagai simbol penghapus aib dan penolak malapetaka bagi kedua mempelai. Ritual ini biasa dilakukan atas saran sesepuh atau tokoh adat setempat.
Untuk kasus neptu 25 yang dianggap paling berat, solusinya kerap difokuskan pada pemilihan tanggal akad nikah yang sangat spesifik dan dianggap membawa energi lebih baik, sehingga dipercaya mampu menetralkan potensi buruk dari hitungan neptu tersebut.
Hal yang Perlu Diperhatikan Soal Weton Jodoh
- Pahami bahwa perhitungan weton adalah tradisi budaya, bukan penentu mutlak keberhasilan rumah tangga.
- Diskusikan dengan keluarga secara terbuka jika hitungan weton jadi pertimbangan penting.
- Konsultasikan ke sesepuh atau ahli Primbon terpercaya untuk penjelasan yang lebih komprehensif.
- Ingat, komunikasi dan komitmen tetap jadi fondasi utama pernikahan yang langgeng.
- Baca juga artikel lain seputar mitos dan tradisi Jawa yang masih hidup di tengah masyarakat.