BANDUNG — Pemerintah Kota Bandung memanfaatkan momen Asia Africa Festival 2026 untuk menggelar diplomasi yang tak biasa. Alih-alih rapat formal di ruang tertutup, mereka memilih cangkir kopi sebagai jembatan komunikasi antarbangsa.
Jamuan makan malam bertajuk “Regenerative Coffee Diplomacy: From Origins to Dialogue” digelar di Plaza Balai Kota Bandung pada Jumat (10/7/2026) malam. Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, yang hadir mewakili Wali Kota Muhammad Farhan yang tengah menjalani perawatan, menyebut kopi sebagai simbol universal.
“Kopi lebih dari sekadar minuman. Kopi menjadi simbol dedikasi para petani, sejarah perdagangan dunia, serta hubungan yang terus terjalin antarkebudayaan dan peradaban,” ujar Iskandar di hadapan para duta besar yang hadir.
Sesi Khusus untuk Palestina di Tengah Perhelatan
Memasuki hari kedua festival pada Sabtu (11/7/2026), atmosfer pergerakan semakin terasa. Panitia menyiapkan ruang talkshow, pameran, dan mimbar akademik khusus bagi perwakilan Palestina. Langkah ini dinilai sebagai bentuk konsistensi menyuarakan hak-hak kemanusiaan yang menjadi ruh Dasasila Bandung sejak 1955.
Iskandar mengingatkan bahwa nilai-nilai sejarah di Kota Bandung tidak boleh pudar. Ia menegaskan, konsistensi menyuarakan kemerdekaan dan perdamaian adalah kewajiban moral yang harus diestafetkan ke generasi penerus.
Gedung Merdeka ke UNESCO dan Lahirnya Green Bandung Spirit
Di luar panggung solidaritas global, Pemkot Bandung juga membawa misi besar: mengupayakan Gedung Merdeka masuk daftar Situs Warisan Dunia UNESCO. Iskandar memaparkan, sektor jasa, pariwisata, dan kunjungan wisatawan adalah urat nadi ekonomi warga Bandung.
“Harapannya, Gedung Merdeka dapat ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO karena memiliki nilai sejarah yang sangat besar bagi perjalanan diplomasi internasional,” tegas Iskandar.
Menteri Lingkungan Hidup RI, Muhammad Jumhur Hidayat, yang hadir dalam acara itu meluncurkan gagasan baru: Green Bandung Spirit. Menurut Jumhur, perubahan iklim dan kerusakan ekosistem kini menjadi musuh bersama bangsa-bangsa.
“Sudah saatnya kita mentransformasikan Bandung Spirit menjadi Green Bandung Spirit, sebuah komitmen baru Asia dan Afrika untuk memperkuat solidaritas, inovasi, dan aksi bersama,” cetus Jumhur. Ia mengajak delegasi membangun budaya pertobatan ekologis demi menjaga bumi.
Lautan Manusia dan Berkah bagi UMKM Lokal
Puncak kemeriahan terjadi pada Sabtu pagi saat parade bendera dikibarkan. Kawasan Jalan Asia Afrika hingga Jalan Cikapundung Barat berubah menjadi lautan manusia sejak pukul 06.00 WIB. Warga dari berbagai daerah sudah menyemut untuk menyaksikan acara yang berlangsung hingga tengah hari.
Ribuan pengunjung yang memadati lokasi festival turut menggerakkan sektor UMKM. Pedagang kaki lima, kedai kopi, dan perajin suvenir lokal menikmati berkah perputaran uang selama dua hari perhelatan berlangsung. Pemkot Bandung mencatat, acara ini menjadi momentum promosi ekosistem kopi lokal dari hulu ke hilir di level internasional.