JAWA BARAT — Juara bertahan Argentina akan menghadapi Inggris di semifinal Piala Dunia, Minggu (15/12) dini hari WIB. Lionel Messi tetap menjadi senjata utama La Albiceleste, meski performanya sempat terkendala saat melawan Swiss di perempat final.
Swiss Beri Cetak Biru: Padatkan Tengah, Hentikan Messi
Swiss menerapkan strategi efektif dengan memadati area tengah pertahanan. Lionel Messi kesulitan mencari ruang untuk mengirim umpan terobosan atau melepaskan tembakan khasnya. Salah satu gerakan andalan Messi, yaitu memberikan bola satu-dua di tepi kotak penalti sebelum melepaskan tembakan, gagal total.
Alih-alih mencetak gol, Messi lebih sering berhadapan dengan tembok pemain Swiss. Baru menjelang gol kemenangan Julian Alvarez, pemain berusia 39 tahun itu mendapat sedikit ruang. “Stop Messi” terdengar klise, tapi Swiss hampir berhasil. Mungkin Inggris bisa meniru pendekatan itu.
Sisi Kanan Argentina Jadi Taman Bermain Gordon dan Rashford
Masalah utama Argentina justru muncul di sisi kanan pertahanan. Bek kanan Nahuel Molina kesulitan menghadapi kecepatan Dan Ndoye, pemain sayap Nottingham Forest yang menjadi mimpi buruk Molina sepanjang 86 menit. Ndoye dengan mudah melewati Molina untuk menyamakan kedudukan.
Lionel Scaloni mengakui Molina mengalami cedera serius sebelum turnamen. Begitu pula dengan cadangannya, Gonzalo Montiel, yang menit bermainnya harus diatur ketat. Situasi ini membuat Anthony Gordon dan Marcus Rashford patut optimis. Rodrigo De Paul yang mulai kelelahan juga tidak banyak membantu pertahanan Molina.
Lini Tengah Kurang Berlari, Bellingham dan Rice Bisa Manfaatkan
Argentina memiliki lini tengah yang piawai mengatur ritme permainan. Namun, kelemahan mereka terletak pada minimnya intensitas lari. Tidak ada satu pun gelandang Argentina yang masuk dalam jajaran pemain dengan sprint terbanyak di Piala Dunia ini. Jude Bellingham, yang menjadi motor serangan Inggris, bisa mendapatkan banyak peluang untuk menembus pertahanan Argentina.
Declan Rice juga diprediksi akan merepotkan jika dalam kondisi fit. Sementara itu, Enzo Fernandez dan Alexis Mac Allister memang mencetak gol penting, tapi mereka mudah dilewati saat kehilangan bola, seperti yang terlihat saat melawan Mesir. Leandro Paredes yang dimasukkan untuk mengamankan pertahanan justru kehabisan tenaga di laga perempat final.
Momen Kejutan dan Fisik Jadi Senjata Ganda
Argentina adalah tim yang hidup dari momen-momen magis pemainnya. Messi, Lautaro Martinez, atau Julian Alvarez bisa tiba-tiba muncul dengan aksi penentu kemenangan. “Pada akhirnya kami selalu menemukan solusi,” ujar Scaloni. Namun, keunggulan fisik Inggris bisa menjadi masalah serius.
Argentina menjadi tim dengan rata-rata tinggi badan terpendek di delapan besar. Swiss dengan mudah memenangkan duel fisik dan memutus rangkaian umpan Argentina. Melawan Inggris, duel Harry Kane melawan bek tengah Argentina, termasuk Cristian Romero yang baru pulih dari cedera, akan menjadi kunci pertandingan.