JAWA BARAT — Pengalaman jangka panjang bersama Acura Integra Type S selama 40.000 kilometer memberikan gambaran utuh tentang karakter sebuah hot hatch sejati. Mobil yang menjadi legiun mobil bertransmisi manual di armada redaksi ini konsisten menghadirkan senyum setiap kali setir digenggam. Sayangnya, waktu juga menagih harga pada aspek kenyamanan dan performa puncaknya.
Mesin 2.0 Turbo Bertenaga, Tapi Suara Masih Kurang Halus
Jantung pacu 2.0 liter turbo empat silinder dengan tenaga 320 hp ini masih menjadi primadona. Tenaga tambahan 5 hp dibandingkan saudaranya, Honda Civic Type R, terasa bertenaga di putaran menengah. Namun, beberapa penguji mencatat suara mesin saat mencapai redline 7.000 rpm terasa kurang polesan. Kabar baiknya, seiring waktu, knalpot triple-exit justru mengeluarkan suara letupan dan dengusan yang lebih keras dan lebih karismatik.
Performa akselerasi tetap impresif. Saat baru, mobil ini mencatat 0-100 km/jam dalam 5,1 detik dan berlari seperempat mil dalam 13,6 detik. Namun, setelah 40.000 km, angka tersebut sedikit melambat menjadi 5,4 detik dan 13,9 detik. Penurunan ini terutama disebabkan oleh kondisi ban asli Michelin Pilot Sport 4S yang sudah aus, serta kemungkinan penurunan output mesin yang terlihat dari waktu akselerasi 5-to-60 mph yang lebih lambat sepersekian detik.
Handling Tajam, Tapi Suspensi Keras Bikin Kopi Tumpah
Integra Type S unggul dalam urusan handling. Sistem kemudi langsung disamakan dengan mobil formula, dan diferensial slip terbatas di depan serta strut dual-axis hampir menghilangkan gejala torque steer. Ban musim panas 19 inci memberikan cengkeraman 1,02 g di skidpad saat baru, yang turun menjadi 1,00 g setelah dipakai. Namun, konsekuensinya adalah kenyamanan berkendara yang keras. Redaksi mencatat suspensi yang kaku cukup untuk menjatuhkan minuman dari tempat cangkir saat melewati jalan rusak.
Kabin Premium yang Kurang Mewah dan Kebisingan Meningkat
Salah satu keluhan terbesar adalah kualitas kabin yang tidak cukup premium untuk harga mulai $52.995. Meski sudah dilengkapi jok depan berbahan kulit dan microfiber berpemanas, mobil ini masih kekurangan ventilasi AC untuk penumpang belakang. Yang lebih kritis, tingkat kebisingan kabin meningkat drastis. Dari 73 desibel saat baru, suara di kecepatan 110 km/jam naik menjadi 75 desibel. Kebisingan ini menjadi pengingat bahwa meski menyenangkan, perjalanan jauh bisa melelahkan.
Konsumsi BBM Efisien, Tapi Tangki Kecil
Meski kerap digeber, Integra Type S mencatat konsumsi BBM rata-rata 10,6 km/liter selama pengujian. Angka ini sedikit lebih baik dari estimasi EPA. Namun, tangki bahan bakar kecil berkapasitas 12,4 galon membuat jarak tempuh antar pengisian hanya sekitar 480 km. Di sisi lain, ruang kargo 0,68 meter kubik di bawah hatch belakang cukup lega untuk mobil sekelasnya.
Perbandingan dengan Honda Civic Type R pun memecah opini redaksi. Sebagian lebih memilih jok Civic Type R yang sangat suportif, meski berbahan kain merah menyala. Sementara yang lain lebih menyukai gaya eksterior Integra yang lebih dewasa. Yang jelas, kepergian Integra Type S meninggalkan lubang besar di armada jangka panjang redaksi, terutama karena tak ada lagi mobil bertransmisi manual yang mampu memberikan keterlibatan mengemudi semurni ini.