Pencarian

Puncak Musim Kemarau di Bandung Diprediksi Agustus-September 2026, 13 Kecamatan Terancam Krisis Air Bersih

Selasa, 21 Juli 2026 • 21:15:31 WIB
Puncak Musim Kemarau di Bandung Diprediksi Agustus-September 2026, 13 Kecamatan Terancam Krisis Air Bersih
Aliran Sungai Cikapundung di kawasan Hegarmanah menyusut drastis sehingga dasar sungai dan tumpukan sampah tampak ke permukaan.

Dampak awal musim kemarau sudah mulai terlihat di sejumlah titik. Di kawasan Hegarmanah, aliran Sungai Cikapundung menyusut drastis sehingga dasar sungai dan tumpukan sampah yang selama ini terendam air kini tampak ke permukaan. Warga terlihat mengambil sampah di aliran sungai tersebut pada Selasa (21/7/2026).

13 Kecamatan Masuk Zona Rawan Kekeringan

Pemkot Bandung sebelumnya telah memetakan wilayah rawan kekeringan. Berdasarkan data BMKG, ada 13 kecamatan yang masuk dalam zona rawan krisis air bersih saat puncak kemarau nanti. Wilayah-wilayah itu tersebar di bagian utara hingga selatan kota.

Kepala pelaksana BPBD Kota Bandung menyebut kesiapan dropping air bersih menjadi prioritas utama. Armada tangki air akan disiagakan untuk melayani permintaan warga yang kesulitan mendapatkan air bersih.

Siaga Darurat Bukan Sekadar Status

Status siaga darurat yang ditetapkan bukan sekadar prosedur administratif. Pemerintah kota wajib mengaktifkan posko pengaduan, menyiapkan logistik, dan berkoordinasi dengan Perumda Tirtawening selaku pengelola air minum. Warga diimbau mulai menampung air hujan dan menggunakan air secara bijak sejak sekarang.

Kekeringan tahunan di Bandung kerap diperparah oleh alih fungsi lahan di kawasan resapan air di utara kota. Meski begitu, antisipasi teknis seperti normalisasi sungai dan sumur resapan terus dilakukan.

Imbauan untuk Warga: Jangan Tunggu Kering

BMKG mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu hingga krisis benar-benar terjadi. Pemanfaatan air tanah secara berlebihan justru bisa mempercepat penurunan muka tanah di Bandung. "Kami minta warga melapor jika sumur mulai mengering, jangan menunggu sampai benar-benar habis," ujar Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat.

Puncak kemarau tahun ini diprediksi tidak lebih ekstrem dibanding tahun lalu. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat pola curah hujan yang makin tidak menentu akibat perubahan iklim.

Follow www.jabarviral.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jabar.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks