JAWA BARAT — Kulon Progo menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus dalam peta kerentanan bencana nasional. Menyadari hal itu, manajemen bandara YIA tidak hanya fokus pada operasional penerbangan, tetapi juga turun langsung memperkuat ekosistem tanggap darurat di sekitar wilayah kerjanya.
Dari Bandara untuk Masyarakat: Perahu Karet untuk Evakuasi Cepat
Bantuan diserahkan langsung oleh General Manager PT Angkasa Pura Indonesia YIA, Muhammad Thamrin, kepada Bupati Kulon Progo Agung Setyawan di Kompleks Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Perahu karet bermesin 25 PK ini dinilai vital untuk menjangkau area terdampak banjir atau tsunami yang sulit diakses kendaraan darat.
"Bantuan ini merupakan komitmen nyata kami dalam mendukung keselamatan masyarakat serta mematangkan manajemen risiko bencana. Kami akan terus berkolaborasi dengan seluruh stakeholder, khususnya terkait ekosistem tanggap darurat," ujar Muhammad Thamrin dalam sambutannya.
Mengapa Kulon Progo Jadi Prioritas? Ancaman Megathrust dan Banjir
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menekankan pentingnya kesiapsiagaan di wilayah selatan Jawa. Menurutnya, potensi gempa megathrust dan bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi sejak dini.
"Harapan kita tentu bencana tidak terjadi, namun upaya mitigasi harus tetap berjalan," kata Agung.
Sebagai tindak lanjut, armada perahu karet tersebut dijadwalkan menjalani uji coba operasional di kawasan Waduk Sermo. Latihan intensif ini akan difokuskan pada pengoperasian motor tempel dan simulasi evakuasi mandiri, dengan pendampingan langsung dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo dan Basarnas.
Kolaborasi antara BUMN, pemerintah daerah, dan relawan seperti SAR SIGAP ini menjadi model kesiapsiagaan yang patut direplikasi di daerah rawan bencana lainnya. Bagi warga pesisir selatan Jawa, kehadiran perahu karet ini bukan sekadar alat—melainkan jaring pengaman yang bisa menyelamatkan nyawa saat darurat tiba.